3

PEMENTASAN AKHIR TAHUN UNIT TARI BALI NATYA WIRAGA ADIGAMA UNIVERSITAS GADJAH MADA

PEMENTASAN AKHIR TAHUN UNIT TAR BALI NATYA WIRAGA ADIGAMA, UNIVERSITAS GADJAH MADA

 

 

Sabtu, 7 Desember 2013 hiruk pikuk di Gedung Pusat Kesenian Koesnadi Hardjosoemantri (Ex Gedung Purna Budaya) sudah terlihat sejak dini hari. Mobil pick up hitam mondar – mandir membawa segala macam perlatan yang akan digunakan untuk mendukung acara yang akan dilaksanakan malamnya. Persiapan final untuk acara yang disiapkan sejak dua bulan lalu, yaitu Pementasan Akhir Tahun Unit Kegiatan Mahasiswa Unit Tari Bali dilakukan di setiap sudut gedung. Kepanitian yang tergabung dari anggota Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma dan Kegiatan Mahasiswa Unit Tari Bali berproses bersama – sama untuk menghasilkan karya terbaik akhir tahun 2013. Sedangkan untuk tim artistik sendiri, selain terdiri dari anggota aktif, juga didukung oleh beberapa pihak luar seperti pada bagian aransemen musik gamelan yang didukung oleh Keluarga Putra Bali (KPB) Purantara, sedangkan untuk tarian garapan berupa sendratari dibantu pengerjaannya oleh salah satu mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yaitu I Gede Radiana Putra.

Acara yang dilatarbelakangi oleh progam kerja tahunan dan juga keinginan untuk menjaga eksistensi kebudayaan kesenian Bali di D. I. Yogyakarta dan sekitarnya, pada kesempatan kali ini mengangkat judul acara “Artction”. “Bagi kami kesenian itu tidak hanya melulu dilestarian dalam berbagai macam teori berbentuk quotes, tetapi perlu dilakukan untuk menjaga pelestarian kebudayaan yang hanyaa dan satu – satunya di seluruh dunia ini, yaitu Kebudayaan Seni Bali,” kata Indah di sela – sela saat acara berlangsung. Pementasan akhir tahun kali ini selain mementaskan beberapa tarian lepas berupa Tari Panyembrahma, Cendrawasih, Legong Kraton dan Kebyar Duduk, juga menampilkan sendratari dengan judul Sunda Upasunda.

           Sendratari Sunda Upasunda mengisahkan putra Raja Dasapati ini bernama Sunda dan Upasunda. Raja tersebut memerintahkan kedua putranya bersemadi di hutan, yang mana sebelumnya keduanya mendapat penganugerahan dari Dewi Durga. Berangkatlah mereka ke hutan untuk menjalankan tapa semadi, dengan harapan mendapat kesaktian agar mampu menguasai ketiga dunia bur, bwah, swah. Kesaktian kedua putra raja tersebut akhirnya terdengar sampai di Indraloka. Betara Indra khawatir dengan kesaktian yang dimiliki keduanya. Akhirnya, disuruhlah tercantik bernama widiadari Nilotama turun ke bumi untuk menggoda tapa semadi kedua bersaudara itu. Dengan harapan, keduanya perang memperebutkan widiadari Nilotama, sehingga kekuatannya melemah. Benar adanya, widiadari-widiadari dari kahyangan itu mampu menggoda kekhusyukan tapa semadi Sunda dan Upasunda. Melihat widiadari Nilotama yang amat cantik, keduanya sama-sama ingin memiliki. Perang saudara pun terjadi. Pada akhirnya kekuatan keduanya dapat dinetralisir oleh kekuatannya sendiri. Kemudian turun Dewa Siwa untuk melerainya serta memberikan wejangan-wejangan. Cerita tersebut sesungguhnya mengandung pesan bahwa baik dajn buruk adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.

 

“Pementasan akhir tahun yang kami susun ini merupakan campuran dari segala macam resep yang kami kumpulkan selama proses setahun sebelumnya, dengan bumbu – bumbu bahan evaluasi dari tahun – tahun sebelumnya. Kami harap semu dapat menipertunjukan kami dan nilai kecintaan terhadap budaya sendiri semakin bertambah.” ungkap Indah.

 

 

Posted by unittari

dance, art, and culture are a unity :)

Leave a Reply

Required fields are marked*