IMG_5903

Sendratari a la UTB

Memperingati ulang tahun Unit Tari Bali yang ke 19, pada Sabtu (27/10) lalu, bertempat di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, kami mengadakan Sendratari Raja Pala lan Ken Sulasih.

Selama kurang lebih 75 menit, sendratari bercerita mengenai kehidupan seorang bidadari yang tidak bisa kembali ke khayangan. Seorang pemuda yang mengambil selendangnya ketika mandi, menawarinya tumpangan selama ia di bumi. Ia pun akhirnya menikah dengan pemuda tersebut dan dikaruniai seorang anak.

Beberapa tahun berlalu, anak mereka pun, Durma, semakin dewasa. Durma diajak oleh Ibunya untuk menemaninya berbelanja di pasar. Ketika sedang berbelanja, Durma terpikat dengan suara dari beberapa anak muda yang menyanyi sambil meminum tuak. Ia pun turut serta. Ibunya yang melihat kejadian itu serta merta marah dan segera mengajak Durma pulang.

Di rumah, Ken Sulasih ditenangkan oleh Raja Pala. Dimana Raja Pala mengajak Durma untuk ikut berburu Kijang di hutan. Ketika mereka sedang keluar, Ken Sulasih menemukan selendangnya yang telah lama hilang. Antara perasaan senang aka kembali ke khayangan dan kesal terhadap Raja Pala yang dianggap berbohong kepadanya, Ken Sulasih berpamitan kepada mereka berdua. Lalu kembali pulang ke khayangan.

Durma merasa kecewa dan kesal terhadap ayahnya, yang dianggap membuat Sang Ibu pergi meninggalkannya. Raja Pala pun menasihatinya, berkata bahwa seharusnya ia dapat bersikap dan hidup secara dewasa. Sementara itu, Raja Pala pun mengasingkan diri, dan pergi menjadi pertapa.

Posted by unittari

dance, art, and culture are a unity :)

Leave a Reply

Required fields are marked*